Actualité de l'Anarchosyndicalisme

Aller au contenu | Aller au menu | Aller à la recherche

INDONESIE / BAHASA INDONESIA

Fil des billets - Fil des commentaires

vendredi 10 mai 2019

INDONESIA: SOLIDARIDAD CON NUESTROS COMPAÑEROS ANARCOSINDICALISTAS

Una ola de represión de violencia inaudita ha caído sobre nuestros compañeros anarcosindicalistas y anarquistas en Indonesia.

Solo en Bandung, la policía arrestó a 619 personas, que fueron agrupados, desvestidos, estacionados y tomados amontonados en levantamiento, rasgado y marcado con pintura roja. 
Más información y fotos:

Lire la suite...

jeudi 9 mai 2019

INDONESIA : SOLIDARITY WITH OUR COMPANIONS

A wave of repression of unheard-of violence fell on our anarchosyndicalist and anarchist companions in Indonesia.

In Bandung alone, the police arrested 619 people, who were penned, undressed, head-shaved, piled up and taken away in pick-up , shorn and marked with red paint. (see for more info and photos: http://blog.cnt-ait.info/public/INTERNATIONAL/INDONESIE/INDONESIE_2019-05-01_en.pdf)

Lire la suite...

INDONESIE : APPEL A LA SOLIDARITE AVEC NOS COMPAGNONS

Une vague de répression d'une violence inouie s'est abattue sur nos compagnons anarchosyndicalistes et anarchistes en Indonésie.

Rien qu'à Bandung, la police a arrêté 619 personnes, qui ont été regroupées, déshabillées, parqués et emmenées entassés en pick-up, tondus et marqués à la peinture rouge. (cf. pour plus d'info et photos sur ce site : http://blog.cnt-ait.info/post/2019/05/02/INDONESIE-repression-premier-mai-2019)

Lire la suite...

mercredi 8 mai 2019

STRUKTUR ORGANISASI DAN STRUKTUR KEKUASAAN DALAM KOLEKTIF

Realitas mengenai implementasi sebuah masyarakat anarkis sering sekali diragukan. Dan kadang-kadang kita yang "setuju" dengan filosofis anarkisme pun menganggap masya-rakat anarkis sebagai utopia yang tidak dapat direalisasikan.

Sepertinya persepsi kita telah diracuni oleh pemikiran-pemikiran yang memberikan keabsahan kepada pemerintah/ negara dan hak perseorangan. Sistem pendidikan di kepulauan Nusantara sendiri cenderung menggalakkan kita untuk menghayati doktrin-doktrin yang mengakibatkan kita menjadi malas berpikir. Padahal dalam masyarakat tradisional tidak dikenal yang namanya pemerintah dan hak milik pribadi. Contohnya dalam masyarakat adat di Maluku, yang ada hanya hak pakai atas sebidang tanah tanpa kepemilikan oleh pihak swasta [1]. Pada masyarakat tradisional pula, pemerintah, yang waktu dulu adalah kerajaan, lebih berfungsi sebagai mahluk yang parasitis yang selalu meminta (paksa) dari rakyat hasil kerja mereka. Penduduk terikat dengan perbudkan feodal dengan para bangsawan [2]. Tidak ada juga yang namanya patriotisme -buktinya rakyat di Jawa tidak suka membantu rajanya berperang melawan penjajah Barat. Konsep nasionalisme/ patriotisme sama sekali tidak mempunyai akar dalam kehidupan masyarakat kepulauan Nusantara -konsep yang baru diperke-nalkan oleh kaum borjuis (priyayi) kepada masyarakat di akhir abad ke sembilan belas [3]

Lire la suite...

vendredi 3 mai 2019

Aksi Langsung bukanlah vandalisme

“Dengan demikian, tidak ada bentuk khusus dari Aksi Langsung. Beberapa orang, yang hanya bisa mencerap hal-hal secara dangkal, menafsirkannya sebagai aksi huru-hara rendahan seperti memecahkan kaca jendela. Dengan perlakuan yang berangkat dari pemahaman cekak semacam ini (yang tentu saja dapat membawa kebahagiaan bagi tukang kaca), hanya akan menjebak kaum proletariat dalam sudut pandang sempit. Padahal, Aksi Langsung memiliki kemungkinan pilihan tindakan yang begitu luas untuk dilancarkan oleh kaum proletar. Tindakan kelas teri semacam ini justru akan mereduksi Aksi Langsung sebagai tindakan impulsif semata yang berpotensi menghilangkan nilai luhur yang sesungguhnya dikandung oleh Aksi Langsung, sekaligus mengabaikan esensi Aksi Langsung sebagai perilaku simbolis dari pemberontakan kelas pekerja.

Aksi Langsung, adalah sesuatu yang sangat mungkin diterapkan oleh para pekerja untuk kepentingan yang sangat luas dan kreatif. Aksi Langsung adalah kekuatan daya juang yang membidani kelahiran sebentuk hukum baru. Aksi Langsung akan mengabadikan pengakuan atas hak sosial! »

« Aksi Langsung » oleh Emile Pouget

jeudi 2 mai 2019

INDONESIE : Après les émeutes du 1er Mai a Bandung, Surabaya et Makassar et une répression féroce, les anarchosyndicalistes et l’AIT dans le viseur de la police locale.

Les manifestations du 1er mai en Indonésie ont donné lieu à différentes actions de groupes anarchistes, et anarchosyndicalistes. A Bandung, Surabaya et Makassar, plusieurs cortège dont certains de black blocks, se sont affrontés avec la police.

A Bandung, la manifestation regroupait essentiellement des jeunes lycéens, étudiants ou travailleurs précaires. Certains étaient habillés de noir ou portaient des drapeaux rouges et noirs. (cf. le communiqué de la Bibliothèque Anarchiste Catut de Bandung en Annexe 1). A l’issu d’une course poursuite avec les forces anti-émeutes, 619 jeunes (dont 14 jeunes femmes) ont été arrêté par la police qui les a regroupés, parqués, déshabillés et tondus. Ils ont ensuite été entassés comme des bestiaux dans des pick-up et transféré au Commissariat central.

Lire la suite...

ANARKO-SINDIKALISME

Anarko-Sindikalisme adalah cabang dari anarkisme yang berkonsentrasi kepada pergerakan buruh. Sindikalis merupakan kata Perancis yang bermakna "serikat buruh". Para penganut ideologi ini disebut dengan Anarko-Sindikalis. Anarko-Sindikalis berpendapat bahwa serikat buruh merupakan kekuatan yang potensial untuk menuju kepada revolusi sosial, menggantikan kapitalisme dan negara dengan tatanan masyarakat baru yang mandiri dan demokratis oleh kelas pekerja.

Anarko-Sindikalis memandang serikat buruh berpotensi sebagai kekuatan revolusioner untuk perubahan sosial, mengganti sistem Kapitalisme dan negara dengan sebuah masyarakat baru yang dikelola secara demokratis oleh kaum pekerja. Anarko-Sindikalis berupaya menghapuskan sistem kerja-upah dan negara atau kepemilikan pribadi terhadap alat produksi, yang menurut mereka menuntun pada pembagian kelas. Anarko-Sindikalis merupakan aliran gerakan anarkis yang populer dan aktif hingga hari ini. Gerakan Anarko-Sindikalis memiliki pendukung yang cukup banyak di dunia dengan berbagai organisasinya di berbagai belahan dunia.

Pokok-pokok pikiran Anarko-Sindikalis

Prinsip-prinsip dasar Anarko-Sindikalis:

_1. Solidaritas kaum pekerja _2. Aksi langsung _3. Swa-kelola kaum pekerja

Bendera Anarko-SindikalisSolidaritas Kaum Pekerja bermakna anarko-sindikalis percaya bahwa semua pekerja, tak terlepas gender atau kelompok sukunya, berada dalam situasi yang serupa dalam kaitannya dengan majikan (kesadaran kelas). Lebih jauh lagi, hal itu berarti, dalam sistem kapitalisme, setiap kerugian atau keuntungan yang diciptakan kaum pekerja terhadap atau dari majikan akan berakibat kepada semua pekerja. Karena itu, untuk membebaskan diri, segenap pekerja mesti saling mendukung satu dengan yang lain di dalam konflik kelas yang mereka hadapi.

Anarko-Sindikalis percaya terhadap metode aksi langsung - yaitu, aksi yang secara langsung memperoleh keuntungan, sebagai lawan dari aksi tak langsung, seperti memilih perwakilan untuk duduk dalam pemerintahan - akan membebaskan ketertindasan mereka. [1]

Image GIF - 3.6 ko
Bendera Anarko-Sindikalis

(2008/07/25)
 

[1] Rocker, Rudolf. ’Anarcho-Syndicalism: Theory and Practice’ AK Press (2004) hal. 73

mercredi 1 mai 2019

La presse indonésienne cible les anarchosyndicalistes et l'AIT suite aux émeutes du 1er Mai à Bandung

Annexe 2 : Extraits de la presse anglophone d’indonésie

INDONESIE_2019-05-01_Presse-1

''The Indonesian National Police (Polri) Chief General Tito Karnavian regretted the fact that the International Workers’ Day, or May Day, that was held in a generally peaceful manner were ruined by the vandalistic actions of Anarcho-syndicalism groups.

The anarchist group, mostly known for their all-black uniform largely vandalized public and private spaces during the rally on Wednesday.

“There is some sort of foreign doctrine in terms of workers’ issues,” said General Tito at the Polri headquarters on Thursday, May 2. The police chief argues that the anarchy movement is an imported idealism from the international community, such as Russia and a number of European countries before it entered Indonesia a few years back in Yogyakarta, Bandung, Surabaya, and Jakarta.

The Police chief announced that he had ordered police personnel to map out the group’s members following a string of vandalism conducted during several May Day rallies on Wednesday and re-educate the young members joined in the anarchy movement.''

La Police fiche les militants Anarcho-syndicalistes après les clashs du Premier Mai

Le général Tito Karnavian, chef de la police nationale indonésienne (Polri), a regretté le fait que la Journée internationale des travailleurs, ou le 1er mai, qui s’est déroulée de manière généralement pacifique, ait été ruinée par les actes de vandalisme de groupes anarcho-syndicalistes.

Le groupe anarchiste, principalement connu pour son uniforme entièrement noir, a vandalisé des espaces publics et privés lors du rassemblement de mercredi.

"C’est une sorte de doctrine d’origine étrangère qui traite des problèmes des travailleurs", a déclaré le général Tito au siège de la police nationale, le jeudi 2 mai.

Le chef de la police affirme que le mouvement anarchiste est un idéalisme importé de la communauté internationale, comme la Russie et un certain nombre de pays européens, avant son entrée en Indonésie il y a quelques années à Yogyakarta, Bandung, Surabaya et Jakarta.

Le chef de la police a annoncé qu'il avait ordonné au personnel de la police de ficher les membres du groupe à la suite d'une série de actes de vandalisme menés mercredi lors de plusieurs célébrations du 1er mai et de rééduquer les jeunes membres du mouvement anarchiste.   INDONESIE_2019-05-01_Presse-2

''Anarchist Group Incited May Day Chaos, Says Workers' Union

The Indonesian workers’ union suspected the mass rally in Jakarta and across the nation in commemorating the International Workers’ Day or May Day was infiltrated by members of anarchy groups.

“Our groups in Bandung clashed with an anarchy group that infiltrated us. The same was seen happening in Bundaran HI,” said Andi Gani Nena Wea, President of the Confederation of All-Indonesian Workers Union (KSPSI) at the Jakarta Metro Police headquarters on Wednesday.

“Events as these are not isolated to this year’s May Day, last year I clashed with similar groups while rallying near the horse statue in Jakarta,” said Andi Gani.

He urged police personnel to handle this issue before any members of the workers’ union get blamed in future May Day rallies caused by the actions of the anarchy groups. ''

Un groupe anarchiste a incité au chaos du 1er Mai selon le syndicat des travailleurs

Le syndicat des travailleurs indonésiens soupçonne que les rassemblement de masse à Jakarta et partout dans la nation pour commémorer la Journée internationale des travailleurs – ou Premier Mai - a été infiltrée par des membres de groupes anarchistes. "Nos groupes à Bandung ont clashés avec un groupe anarchiste qui nous infiltrait. La même chose s'est produite à Bundaran HI à Jakarta", a déclaré mercredi Andi Gani Nena Wea, Président de la Confédération de tous les travailleurs indonésiens (KSPSI) au siège de la police métropolitaine de Jakarta.

"Des événements tels que ceux-ci ne sont pas isolés au seul Premier Mai, l’an passé je me suis clashé avec des groupes similaires qui se rassemblaient à Jakarta", a déclaré Andi Gani. Il a appelé la police à traiter ce problème avant qu’aucun membre du Syndicat des travailleurs ne soit blâmé dans les futurs rassemblements du Premier Mai pour les actions causées par ces groupes anarchistes. 

==========

Annexe 3 : Article de la presse indonésienne incriminant l’AIT

Tentang Anarcho-Syndicalism yang Gerakkan Massa Baju Hitam di Hari Buruh (Tim detikcom - detikNews)

Massa berbaju hitam-hitam saat hari buruh di Bandung (Mukhlis Dinillah/detikcom)

Jakarta - Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut massa berbaju hitam-hitam yang membuat ricuh Aksi May Day di Kota Bandung sebagai kelompok anarcho-syndicalism. Apa yang dimaksud dengan fenomena itu?

Tito menyebut anarcho-syndicalism sebagai fenomena internasional di mana pekerja ingin lepas dari aturan. Menurutnya, fenomena ini berkembang di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan.

"Jadi maunya pekerja lepas dari aturan dan mereka menentukan aturan sendiri, makanya disebut dengan anarcho-syndicalism. Ini sudah lama berkembang di Rusia, kemudian di Eropa, Amerika Selatan, termasuk di Asia," jelas Tito di gedung Rupatama Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (2/5/2019). Baca juga: Kapolri Sebut Massa Berbaju Hitam di Hari Buruh Kelompok Anarcho-Syndicalism

Dikutip dari buku 'Political Theorists in Context' karya Stuart Issacs dan Chris Sparks, anarcho-syndicalism atau anarko-sindikalisme adalah cabang dari anarkisme yang berkonsentrasi pada pergerakan buruh. Anarko-sindikalisme meyakini bahwa hanya penghapusan sistem upah dan pembentukan manajemen industri yang mandiri dapat membebaskan para pekerja. Sementara itu, seperti dikutip dari 'Anarcho-syndicalism in the 20th Century' karya V Damier, gerakan ini bangkit dalam dekade pertama abad ke-20. Gerakan ini menyebar ke berbagai negara di belahan dunia, dari Spanyol, Rusia, Prancis, Jepang, Argentina, Swedia, Italia, China, Portugal, hingga Jerman.

Pada 1922, International Workers Association (IWA) dibentuk sebagai federasi internasional untuk serikat buruh anarko-sindikalisme. Organisasi ini mengusung bendera berwarna merah dan hitam. Baca juga: Ratusan Remaja 'Hitam-hitam' yang Ditangkap Polisi Bikin Aksi Vandalisme

Di situs resminya, IWA sendiri membuat seruan saat May Day 2019 kepada para pekerja. IWA menyatakan tujuannya agar para buruh mendapatkan kendali atas hidupnya.

Sebelumnya diberitakan, sejumlah pemuda diamankan polisi di Bandung lantaran dianggap mengganggu jalannya May Day. Kelompok berbaju hitam-hitam itu melakukan aksi vandalisme. Kehadiran mereka sempat dibubarkan polisi. Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Para pemuda yang diamankan langsung digiring ke Mapolrestabes Bandung. Rambut mereka digunduli. Di Surabaya, muncul pula massa berpenampilan hitam-hitam. Ulah mereka juga sama, bikin rusuh. Tanpa banyak bicara, massa berpakaian hitam-hitam ini langsung melakukan aksi duduk di depan Gedung Negara Grahadi tempat massa buruh merayakan May Day, Rabu (1/5).

Baca juga: Massa Serba Hitam Muncul Saat May Day di Prancis, 88 Orang Ditangkap

Di Makassar, massa berpakaian hitam-hitam juga beraksi. Kata juru parkir di wilayah Panakkukang, 20 orang berpakaian hitam merusak spanduk reklame, mencoret dinding, dan melempar batu serta balok. Mereka juga melontarkan kata-kata makian.

À propos de l'anarcho-syndicalisme qui a déplacé une masse de black blocs à l'occasion de la fête du travail à Bandung (Mukhlis Dinillah / detikcom)

Jakarta - Le chef de la police nationale, le général Tito Karnavian, a qualifié les groupes vêtus de noir qui ont semé le chaos par leurs actions du 1er mai à Bandung de groupe anarcho-syndicaliste. Quel est ce phénomène ?

Le Général Tito a rappelé que l'anarcho-syndicalisme est un phénomène international dans lequel les travailleurs veulent échapper aux règles. Selon lui, ce phénomène s'est développé en Indonésie ces dernières années.

« Les travailleurs veulent sortir du cadre des lois et déterminer leurs propres règles. C'est ce qu'on appelle l'anarcho-syndicalisme. Cela se développe depuis longtemps en Russie, puis en Europe, en Amérique du Sud, y compris en Asie", a expliqué le général Tito au siège de la police de Rupatama, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Sud, le jeudi 02 mai 2019.

Cités dans l'ouvrage "Les théoriciens politiques dans leur contexte" de Stuart Issacs et Chris Sparks, l'anarcho-syndicalisme est une branche de l'anarchisme qui se concentre sur le mouvement ouvrier. L'anarcho-syndicalisme estime que seules la suppression du système des salaires et la formation d'une organisation indépendante de travailleurs peuvent libérer les travailleurs.

Selon le livre « l'anarcho-syndicalisme au XXe siècle » de Vadim Damier, ce mouvement est né dans la première décennie du XXe siècle. Ce mouvement s'est étendu à divers pays du monde, depuis l'Espagne, la Russie, la France, le Japon, l'Argentine, la Suède, l'Italie, la Chine, le Portugal et l'Allemagne.

En 1922, l'Association internationale des travailleurs (AIT, en anglais IWA) a été créée en tant que fédération internationale des syndicats anarcho-syndicalistes. Cette organisation porte des drapeaux rouges et noirs.

Sur son site officiel, l'AIT-IWA a elle même lancé des appels pour le 1er mai 2019 à l'intention des travailleurs. L’AIT-IWA a déclaré que son objectif était que les travailleurs prennent le contrôle de leur vie.

A Bandung, un certain nombre de jeunes hommes en fait 609 jeunes hommes et 14 fem... avaient été arrêtés par la police à Bandung, car ils étaient réputés interférer avec la manifestation du 1er mai. Le groupe habillé en noir effectuait du vandalisme. Leur présence a été dissoute par la police. Une poursuite s'en est ensuivi. Les jeunes hommes qui ont été appréhendés ont immédiatement été conduits au Commissariat central de Mapolrestabes à Bandung. Leurs cheveux ont été rasés.

À Surabaya, une masse d'apparence noire et sombre est également apparue. Ils ont agi de même, faisant des émeutes. Sans beaucoup de discussions, la foule vêtue de noir vint immédiatement à l'action devant le Grahadi State Building, où la masse des travailleurs célébrait le 1er mai.

À Makassar, la foule vêtue de noir s'est également mobilisée. Un préposé au stationnement a déclaré dans la région de Panakkukang que 20 personnes revêtues de noirs avaient endommagés des panneaux, avaient détruit des murs et avaient jeté des pierres et des poutres. Ils ont également lancé différentes invectives.

Communiqué de la Bibliothèque Anarchiste Catut de Bandung

Nous sommes les enfants des ouvriers et de travailleurs qui travaillent dans les usines, les bureaux, les entrepôts, les ateliers, les restaurants et partout où nos parents s'inclinent devant l'employeur.

Lire la suite...